Tagged: NU Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • mas Aqil 9:31 pm on August 8, 2011 Permalink | Reply
    Tags: banser, densus 99, ilmu kebal, , NU, puasa,   

    Menilik Ilmu Kebal 

    Pada acara harlahnya (hari ulang tahunnya) yang ke 85, salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia mengumumkan tentang dibentuknya sebuah Detasemen Khusus (Densus) yang mereka namai Densus 99. Densus ini merupakan badan yang dibawahi oleh Banser yang merupakan salah satu pasukan pengaman oraganisasi ini. Angka 99 itu mereka ambil dari mengambil nama jumlah asmaul husna berjumlah 99 untuk menjaga keamanan masyarakat dari teror kelompok garis keras yang akhir-akhir ini marak terjadi di Indonesia dan untuk mengabdikan diri terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam mencegah aksi terorisme.

    Di acara harlah yang diselenggarakan di Glora Bung Karno itu, mereka menampilkan sebuah atraksi pertunjukan kebal dari petasan. Pada sekujur tubuh empat personel Densus 99 dililitkan rentengan ratusan petasan. Personel yang mengenakan kaos bertuliskan ‘Densus 99’ di punggungnya, bercelana hijau dan menyematkan slayer di kepalanya itu terlihat berdoa komat-kamit sebelum memamerkan ilmu kebalnya. Lalu duar… duarr… duarr, petasan di tubuh keempat pria itu pun meledak.

    Sampai petasan terakhir meledak, keempatnya terlihat baik-baik saja, tidak ada luka sedikitpun di tubuh maupun baju yang terbakar. Aksi ini mendapat tepuk tangan orang-orang yang hadir. (More …)

    Advertisements
     
    • Muhammad Taufik Rahman 5:15 pm on August 21, 2012 Permalink | Reply

      Saya melihat beberapa hal yang perlu dikoreksi dalam tulisan anda:

      Pertama, ilmu kebal itu bermacam-macam. Tidak hanya kebal terhadap senjata tajam atau peluru. Diantara ilmu kekebalan yang lain itu adalah kebal penyakit (karena tubuh yang sehat), kebal pengetahuan (tidak terbuka dengan pengetahuan), maupun kebal kritik (tertutup dengan berbagai macam masukan).

      Kedua, kekebalan itu tidak mutlak didapatkan hanya dengan berpuasa 40 hari. Lihatlah kekebalan yang didapatkan seorang bayi. Hanya dengan sebuah suntikan imunisasi, maka keballah bayo tersebut dari penyakit tertentu. Atau cobalah lihat kekebalan yang dimiliki tentara2 di negara maju; hanya dengan mengenakan sebuah rompi anti peluru, maka keballah dia. Tapi mengapa bayi yang kebal penyakit karena imunisasi dan tentara yang kebal peluru tidak dianggap musyrik? atau tidak dianggap islami? Jangan lupa, kekebalan juga bisa didapatkan dengan latihan fisik tertentu.

      Ketiga, seandainya kekebalan yang anda persoalkan itu bukan dari ajaran Al Quran, Sunnah dan tidak islami lah, lantas, darimana anda bisa menyimpulkan secara pasti bahwa kekuatan itu berasal dari jin? Anda punya bukti empiriknya? pasti tidak kan?

      Keempat, dari pengalaman anda mengikuti latihan bela diri tenaga dalam di pagar nusa, apakah logis menyimpulkan, jika setelah membaca ayat-ayat dari surat tertentu dalam Al Quran, maka yang mengeluarkan tenaga dalam dahsyat itu kemudian, adalah jin? darimana logikanya? Yang benar menurut saya adalah: jika kita membaca ayat-ayat quran dalam berlatih pagar nusa sambil memperagakan gerakan tertentu dan berimplikasi terlemparnya tubuh seseorang yang menyerang kita, maka pertanyakanlah kepada niat dan ayat yang kita baca itu. Apakah niat kita meminta tolong kepada jin? apakah ayat-ayat quran yang dibaca PASTI MENGELUARKAN KEKUATAN JIN? ya tidak kan. Itu urusan Allah untuk merespon niat dan bacaan yang kita gunakan untuk bela diri itu dalam berbagai bentuknya. Jangan terburu-buru menyimpulkan gerakan silat yang diiringi bacaan-bacaan ayat suci quran pasti berakibat munculnya kekuatan jin. Ini klaim yang menyesatkan.
      Coba cek lagi kesimpulan dari cerita anda ini:
      “Dari sini kita bisa mengetahui bahwa puasa untuk mendapatkan ilmu kebal seperti itu bukanlah ajaran Islam. Dahulu, ketika saya masih berada di lingkungan Nahdhiyin, saya pernah mengikuti sebuah perguruan bela diri “Pagar Nusa”. Saat itu sampailah saya mempelajari tenaga dalam. Sebelum latihan tenaga dalam itu, ada beberapa bacaan yang saya dan teman-teman saya harus baca. Di antara bacaan itu adalah ayat-ayat mu’awidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) dan beberapa bacaan lainnya yang juga berasal dari Al-Qur’an. Maka, bacaan-bacaan itulah yang harus dibaca setiap kali mengeluarkan jurus tenaga dalam tersebut. Setelah membaca bacaan-bacaan itu, kami pun melakukan gerakan-gerakan bela diri dengan mengolah pernapasan. Terkadang kami disuruh untuk menarik napas panjang-panjang, menahannya dan mengeluarkannya. Maka, ketika kami menghentakkan tangan kanan ke depan sebagai tanda memukul, maka lawan yang berada di depan kami terhempas ke belakang tanpa harus menyentuh lawan tersebut.

      Saya tidak ragu lagi bahwa kekuatan-kekuatan tersebut didapatkan dengan melibatkan bantuan jin. Meskipun mendapatkan kekuatan itu dengan mengamalkan amalan-amalan yang diklaim sebagai amalan yang Islami. Akan tetapi setelah kita telisik lebih jauh, ternyata amalan-amalan tersebut tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sementara, kita dilarang meminta tolong kepada jin untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Allah ta’ala berfirman,

      وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

      “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin: 6)” ——- Anda menggunakan kesimpulan logika yang lemah. Masa’ dengan membaca Surat An Nas dan Al Falaq, kemudian Jin membantu anda? Coba anda tanya lagi kepada Allah dan Jin yang membantu anda..

      Kelima, apakah puasa 40 hari itu bertentangan dengan ajaran Islam? simpel aja mas. Kalau tidak ada dalam Al Quran, itu BELUM TENTU DILARANG ATAU DIBOLEHKAN. Anda melakukan shalat lima waktu dengan ruku’ dan sujud itu dijelaskan dalam Al Quran? tidak ada kan? Apa anda lupa jika nabi daud itu melakukan puasa daud hampir seumur hidupnya? Metode puasa nabi daud ini bahkan diamalkan oleh banyak orang Islam. Nah, sejauh puasa itu tidak diharamkan dan diniatkan untuk membersihkan diri manusia, maka di mana salahnya?

      Keenam, Betul Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya ketika berperang mengalami luka dan banyak yang meninggal. Tapi lupakah anda ketika Nabi Muhammad dengan 313 – 317 orang pasukannya mengalahkan ribuan tentara quraisy bersenjata lengkap? kemenangan ini tidak logis mas. Tapi terjadi. Dari mana kekuatan pasukan nabi Muhammad itu? dari Jin atau dari Allah? Kalau menurut anda dari Allah, berarti sama dengan persepsi saya. Jadi, berhentilah menilai ilmu kebal yang dimiliki saudara-saudara muslim kita itu pasti berasal dari jin. Sejauh niat mereka meminta bantuan kepada Allah, dan metode mereka cuma dengan membaca-baca ayat Quran, maka terserah Allah membantu kekebalan mereka itu dengan cara yang hanya dia yang tahu.

      • Budi Santoso 6:42 am on June 26, 2013 Permalink | Reply

        ” Kalau tidak ada dalam Al Quran, itu BELUM TENTU DILARANG ATAU DIBOLEHKAN.” pernyataan tersebut jelas-jelas ngawur dan salah kaprah. Karena pada dasarnya ibadah itu berupa larangan sebelum ada perintah di dalamnya. Kalau tidak disyariatkan berarti HARAM hukumnya.
        Terus tentang nabi Daud itu pun karena ada haditsnya, sedangkan puasa 40 hari jelas-jelasa mengada-ngada. inilah yang tidak diperbolehkan dalam Islam, membuat syariat sendiri, dan meyakini kebenarannya padahal tidak ada perintah di dalamnya. Waallahu A’lam bi showab.

    • abu qanita 4:14 pm on May 31, 2014 Permalink | Reply

      Memang pagar Nusa itu barisan yang didirikan untuk membentengi liberalisme dengan kedok membela NKRI. Padahal membela kesyirikan. Buktikan bahw kekebalan beberapa anggota pagar nusa berasal dari Allah SWT, bukan dari jin? Padahal Nabi SAW dan para Sahabat ra yg paling dekat dekat dg Allah SWT tidak punya ilmu kebal. Lebih percaya siapa? Nabi dan para Sahabat ataukah anggota2 PagarNusa? He.he. Hanya orang gak cerdas yg keras kepala yg tetep keukeuh dg kekonyolan pagar Nusa..

    • Sriyono 10:15 am on June 10, 2014 Permalink | Reply

      Wah, menarik sekali wacana di atas… tapi menurut saya jangan saling menyalahkanlah… belum tentu yang kelihatannya menyimpang itu benar-benar menyimpang… jadi mohon jangan suudzon dan jangan gampang-gampang menyatakan seseorang musyrik.

    • alan 2:44 pm on August 26, 2014 Permalink | Reply

      jadi memliki ilmu kebal itu boleh atau tidak dalam agama islam ?
      kalau niat saya meminta pertolongan allah gimana ?

    • Rullys reales 7:25 pm on September 18, 2014 Permalink | Reply

      Hemmbbbb z g pa2 pnya jimat atau pnya ilmu kebal,wali aja punya keris,nabi musa punya tongkat,yg pnting kn kita g prcya kkuatanya pada barang itu,cuman perantara barang itu
      g mungkin kita kenyang tp g mkan,perantaranya makan tp yg mmberi kenyang kan allah

    • dhika 4:39 pm on December 29, 2014 Permalink | Reply

      Assalamualaikum Wr Wb
      Begini sajalah dari pada ribut. Di dalam islam , Nabi / Rasulullah memiliki kemampuan lebih yang di sebut mukjizat. Ada lagi yang namanya Karomah. Mukjizat itu kemampuan luar biasa yang diberikan kepada Nabi/Rasul oleh Allah SWT. Sedangkan Karomah itu kemampuan yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia biasa yang taat dan dengan niat menegakkan Islam. Ingatkah kalian dengan penyebaran ISLAM di Indonesia melalui Wali sanga. Anggota wali sanga yaitu sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Sunan Bonang dll. Mereka memiliki kemampuan lebih. Saya tidak membela pihak manapun tapi Guru Ngaji saya pernah bilang “Kalo niat di dasari untuk bersungguh – sungguh membela dan menegakkan Islam, maka akan mendapat ridha Allah SWT.
      Wa alaikum salam Wr Wb

    • Damar Sinuko 2:18 am on May 10, 2015 Permalink | Reply

      Untuk menjadi kebal maka jagalah perkataan dan perilakumu sihingga tidak memicu orang lain untuk membacokmu.

    • Rian 2:21 am on June 19, 2015 Permalink | Reply

      wuih….3x lumayan nambah wawasan kang, , jika yang mempraktekan orang awam dan tanpa praktisi kusus saya kira resiko cidera akan lebih banyak… tak lupa faktor keyakinan juga berpengaruh
      itulah Indonesia,,, kental dengan adat istiadat nenek moyang yang g jauh2 dengan lmu mistis kadang bayanginnya ngery Euy… -_-
      diluar kita mandang itu sebuah ini itu yang bertentanga dengan ini itu juga, kita patut menghargai dan bangga dengan kekayaan adat istiadat leluhur kita
      kayak ni anak SMP Atraksi nyabut samurai yag di genggam kayak Film2 Jepang gitu, ealah… ampun deh ntar gede mau nyabut paku bumi kali ya ^_^

    • Aribowo 3:18 pm on May 15, 2016 Permalink | Reply

      Om, alamat kiyai salik dimana ya ?

    • Bambang 7:25 pm on February 9, 2017 Permalink | Reply

      Ak mau tanya Rasulullah itu kebal g ya..kan katanya org klo membaca ayat tertentu bisa kebal…apa Rasulullah g tau ayat itu…

  • mas Aqil 10:18 am on April 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , NU, ,   

    KH. Makhrus Ali, Mantan Kyai NU yang Mendakwahkan Sunnah di Kalangan Nahdhiyin 

    “Tahlilan merupakan budaya agama Hindu, hal ini dibuktikan dengan ungkapan syukur dari pendeta dalam sebuah acara berikut ini,“Tahun 2006 silam bertempat di Lumajang, Jatim diselenggarakan kongres Asia penganut agama Hindu. Salah satu poin penting yang diangkat adalah ungkapan syukur yang cukup mendalam kepada Tuhan mereka karena bermanfaatnya ajaran agama mereka yakni peringatan kematian pada hari 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 40, 100, 1000 dan hari matinya tiap tahun yang disebut geblak dalam istilah Jawa(atau haul dalam istilah NU-ed) untuk kemaslahatan manusia yang terbukti dengan diamalkannya ajaran tersebut oleh sebagian umat Islam” (KH. Makhrus Ali dalam buku “Mantan Kyai NU menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah para Wali” hal.23)

    “Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabi’uts tsani 1345H/21Oktober 1926M mencantumkan pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan setelah kematian (yakni Tahlilan dan Yasinan-ed) adalah Bid’ah yang hina/tercela, namun tidak sampai mengharamkannya. (Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, keputusan Muktamar, Munas Kombes Nahdhatul Ulama (1926-2004M) LTN NU Jawa Timur Bekerja sama dengan Penerbit Khalista, Surabaya-2004. Cetakan ketiga, Februari 2007 Halaman 15 s/d 17).” (KH. Makhrus Ali dalam buku “Mantan Kyai NU menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah para Wali” hal.19) (More …)

     
  • mas Aqil 10:13 am on April 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: ahli bid'ah, ahlussunnah, Buku Putih, , Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, NU   

    Kyai Afrokhi Abdul Ghoni: Dari Ahlul Bid’ah menuju Ahlussunnah (Kisah taubat seorang Kyai NU dari ajaran NU) 

    “Terus te rang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid’ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga tempat-tempat yang dianggap keramat sekaligus menjadi imam tahlilan, ngalap berkah kubur, marhabanan atau baca barzanji, diba’an, maulidan, haul dan selamatan yang sudah berbau kesyirikan”

    “Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)

    “Kita biasa m elakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim pahala bacaan kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut atas dasar kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya sendiri di kala masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah ngalap berkah dan kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu ilmu sama sekali, yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya melihat banyak orang yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang mengamalkannya. Hingga saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu adalah suatu kebenaran.” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210) (More …)

     
  • mas Aqil 9:44 am on April 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , fatwa, i'tikaf, KH. Arwani Faishal, , , NU   

    Fatwa KH. Arwani Faishal Tentang I’tikaf (Adakah para Nahdhiyin Yang Mau Mengubah Amaliah dan keyakinannya?) 

    Bismillaahirrohmaanirrohiim

    .::KH. Arwani Faishal adalah Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masaa`il PBNU::.

    I’tikaf adalah berdiam di dalam masjid dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah. Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pada setiap bulan Ramadhan selama 10 hari yang terakhir, selalu melaksanakan i’tikaf. Bahkan secara khusus –pada tahun wafatnya-, beliau beri’tikaf pada bulan Ramadhan itu selama 20 hari, sebagaimana yang termaktub dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari rahimahullaah dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.

    Pelaksanaan I’tikaf Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallaahu ‘anhum selama 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan itu erat kaitannya dengan Lailatul Qadar. Dalam artian, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallaahu ‘anhum beri’tikaf atau bertekun-tekun ibadah untuk berjaga-jaga ketika turun Lailatul Qadar. (More …)

     
    • Ade Malsasa Akbar 1:22 am on December 18, 2011 Permalink | Reply

      Semoga Allah memberikan kita hidayah. Amin.

      Sungguh, seumur hidup saya tidak tahu dengan yang namanya i’tikaf tapi di kuburan. Sebetulnya bisa diterima kalau itu haram dan syirik, tapi kenapa sih pak kok banyak sekali yang amalkan itu dari dulu? BUkannya yang seperti itu sudah terlalu jelas dan semestinya sepatutnya ditinggal?

    • Dewo Sulistiyo 6:11 am on March 24, 2012 Permalink | Reply

      Melakukan i’tikaf tentu di masjid tapi Apa dilarang jika kita mengenal/mendekati/berdoa di sekitar makam para pejuang agama Islam/wali songo? Kenapa makam Rosululloh ada di dalam Masjid Nabawi? Semoga ada pembaca budiman yang berkenan menjawab pertanyaan saya, terimakasih…

      • mas Aqil 9:23 am on March 31, 2012 Permalink | Reply

        Telah ada larangan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah layaknya sebuah masjid. Sedangkan berdoa adalah sebuah ibadah dan ibadah tidak boleh dilakukan di pekuburan. Ada kesalahan dalam praktek ziarah kubur pada sebagian umat Islam, sehingga hal itu dijadikan dan dianggap benar oleh kaum muslimin. Mereka berdoa, membaca Al-Qur’an, i’tikaf bahkan shalat di area pekuburan. Ketahuilah semua itu adalah kesalahan.

        Adapun kubur Rasulullah sebenarnya tidak di dalam masjid. Akan tetapi di kamar Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa. Namun, dalam perjalanannya, masjid Nabi diperluas sehingga memasukkan kubur Nabi ke dalam masjid. Kuburan Nabi tidaklah sama dengan kuburan siapapun, termasuk wali songo yang diagung-agungkan secara berlebihan oleh kaum muslimin. Dan pemerintah KSA telah melakukan penjagaan ketat di kuburan Nabi. Orang yang ketahuan berdoa di hadapan kuburan Nabi, atau thawaf di sekeliling kuburan Nabu, maka dia akan diusir oleh petugas. Jadi, tidak sama dan tidak boleh beribadah (berdoa, i’tikaf dll) di kuburan siapapun, termasuk kuburan Nabi.

        Allaahua’lam..

  • mas Aqil 12:40 am on April 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , NU, , ,   

    Salah Kaprah dalam Memperuntukkan Tahlilan (Penyimpangan Di atas Penyimpangan) 

    Bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Sebuah kesalahan dan kemungkaran itu tidak diam di tempat. Manakala kesalahan dan kemungkaran tidak segera diperbaiki, maka akan bertambah parahlah kesalahan dan kemungkaran itu. Termasuk dalam hal ini adalah perkara bid’ah yang akan kita bicarakan pada kesempatan kali ini, yakni Yasinan dan Tahlilan (terkhusus tahlilan, karena jika kedua amalan ini terkumpul menjadi satu, maka tahlilanlah yang sering disebut dibandingkan dengan Yasinan). Ya, tahlilan adalah sebuah amaliah bid’ah yang dibuat-buat oleh manusia, bukan amalan Rasulullah dan para sahabat beliau beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Walau sebagian orang menganggapnya sebagai bid’ah hasanah, sesungguhnya anggapan ini tertolak dalam syari’at. Tidak ada yang namanya bid’ah hasanah. Dan bid’ah merupakan kemungkaran yang dianggap oleh banyak manusia sebagai ketaatan. (More …)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel