Tagged: nahdhiyin Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • mas Aqil 10:18 am on April 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , nahdhiyin, , ,   

    KH. Makhrus Ali, Mantan Kyai NU yang Mendakwahkan Sunnah di Kalangan Nahdhiyin 

    “Tahlilan merupakan budaya agama Hindu, hal ini dibuktikan dengan ungkapan syukur dari pendeta dalam sebuah acara berikut ini,“Tahun 2006 silam bertempat di Lumajang, Jatim diselenggarakan kongres Asia penganut agama Hindu. Salah satu poin penting yang diangkat adalah ungkapan syukur yang cukup mendalam kepada Tuhan mereka karena bermanfaatnya ajaran agama mereka yakni peringatan kematian pada hari 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 40, 100, 1000 dan hari matinya tiap tahun yang disebut geblak dalam istilah Jawa(atau haul dalam istilah NU-ed) untuk kemaslahatan manusia yang terbukti dengan diamalkannya ajaran tersebut oleh sebagian umat Islam” (KH. Makhrus Ali dalam buku “Mantan Kyai NU menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah para Wali” hal.23)

    “Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabi’uts tsani 1345H/21Oktober 1926M mencantumkan pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan setelah kematian (yakni Tahlilan dan Yasinan-ed) adalah Bid’ah yang hina/tercela, namun tidak sampai mengharamkannya. (Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, keputusan Muktamar, Munas Kombes Nahdhatul Ulama (1926-2004M) LTN NU Jawa Timur Bekerja sama dengan Penerbit Khalista, Surabaya-2004. Cetakan ketiga, Februari 2007 Halaman 15 s/d 17).” (KH. Makhrus Ali dalam buku “Mantan Kyai NU menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah para Wali” hal.19) (More …)

     
  • mas Aqil 9:44 am on April 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , fatwa, i'tikaf, KH. Arwani Faishal, , nahdhiyin,   

    Fatwa KH. Arwani Faishal Tentang I’tikaf (Adakah para Nahdhiyin Yang Mau Mengubah Amaliah dan keyakinannya?) 

    Bismillaahirrohmaanirrohiim

    .::KH. Arwani Faishal adalah Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masaa`il PBNU::.

    I’tikaf adalah berdiam di dalam masjid dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah. Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pada setiap bulan Ramadhan selama 10 hari yang terakhir, selalu melaksanakan i’tikaf. Bahkan secara khusus –pada tahun wafatnya-, beliau beri’tikaf pada bulan Ramadhan itu selama 20 hari, sebagaimana yang termaktub dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari rahimahullaah dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.

    Pelaksanaan I’tikaf Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallaahu ‘anhum selama 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan itu erat kaitannya dengan Lailatul Qadar. Dalam artian, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallaahu ‘anhum beri’tikaf atau bertekun-tekun ibadah untuk berjaga-jaga ketika turun Lailatul Qadar. (More …)

     
    • Ade Malsasa Akbar 1:22 am on December 18, 2011 Permalink | Reply

      Semoga Allah memberikan kita hidayah. Amin.

      Sungguh, seumur hidup saya tidak tahu dengan yang namanya i’tikaf tapi di kuburan. Sebetulnya bisa diterima kalau itu haram dan syirik, tapi kenapa sih pak kok banyak sekali yang amalkan itu dari dulu? BUkannya yang seperti itu sudah terlalu jelas dan semestinya sepatutnya ditinggal?

    • Dewo Sulistiyo 6:11 am on March 24, 2012 Permalink | Reply

      Melakukan i’tikaf tentu di masjid tapi Apa dilarang jika kita mengenal/mendekati/berdoa di sekitar makam para pejuang agama Islam/wali songo? Kenapa makam Rosululloh ada di dalam Masjid Nabawi? Semoga ada pembaca budiman yang berkenan menjawab pertanyaan saya, terimakasih…

      • mas Aqil 9:23 am on March 31, 2012 Permalink | Reply

        Telah ada larangan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah layaknya sebuah masjid. Sedangkan berdoa adalah sebuah ibadah dan ibadah tidak boleh dilakukan di pekuburan. Ada kesalahan dalam praktek ziarah kubur pada sebagian umat Islam, sehingga hal itu dijadikan dan dianggap benar oleh kaum muslimin. Mereka berdoa, membaca Al-Qur’an, i’tikaf bahkan shalat di area pekuburan. Ketahuilah semua itu adalah kesalahan.

        Adapun kubur Rasulullah sebenarnya tidak di dalam masjid. Akan tetapi di kamar Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa. Namun, dalam perjalanannya, masjid Nabi diperluas sehingga memasukkan kubur Nabi ke dalam masjid. Kuburan Nabi tidaklah sama dengan kuburan siapapun, termasuk wali songo yang diagung-agungkan secara berlebihan oleh kaum muslimin. Dan pemerintah KSA telah melakukan penjagaan ketat di kuburan Nabi. Orang yang ketahuan berdoa di hadapan kuburan Nabi, atau thawaf di sekeliling kuburan Nabu, maka dia akan diusir oleh petugas. Jadi, tidak sama dan tidak boleh beribadah (berdoa, i’tikaf dll) di kuburan siapapun, termasuk kuburan Nabi.

        Allaahua’lam..

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel