Tagged: Kyai Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • mas Aqil 12:14 am on July 15, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , kerbau bule, kraton, Kyai, kyai slamet, mengenal, nusantara, nyai, pusaka,   

    Mengenal Sosok Para Kyai Nusantara 

    Diantara istilah yang ada di negeri kita yang kebanyakan kita mengetahuinya adalah istilah Kyai. Terkadang dieja dengan Kiai. Terkadang juga disingkat dengan julukan Ki. Meskipun termasuk istilah yang sangat populer, istilah Kyai ini masih mengandung banyak misteri.

    Ketika kita ditanya tentang apa itu Kyai, tak banyak dari kita yang bisa menyebutkan pengertian Kyai kecuali satu pengertian saja yang juga masyhur di kalangan kita yakni Kyai adalah sebutan lain untuk ulama atau orang yang memiliki ilmu agama secara mendalam yang juga diharapkan bisa menjadi panutan. Itulah pengertian yang lumrah di masyarakat kita secara kebanyakannya.

    Dari pengertian ini, Kyai sama pengertiannya dengan Buya bagi masyarakat Sumatera Barat dan sekitarnya; Ajengan bagi masyarakat Jawa Barat (Sunda); Teungku bagi masyarakat Aceh; Tofanrita bagi masyarakat Sulawesi Selatan; Tuan Guru bagi masyarakat Lombok dan Nusa Tenggara, dan lain sebagainya. Semua istilah itu sama secara pengertian, namun berbeda dari segi penamaan. (More …)

     
    • Ade Malsasa Akbar 1:42 am on December 18, 2011 Permalink | Reply

      Sungguh berbahaya jika benar ada kebo yang disembah. Kita mesti tahu bahwa itu tindakan syirik dan sepatutnya muslim tinggalkan itu.

  • mas Aqil 10:18 am on April 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: Kyai, , , , ,   

    KH. Makhrus Ali, Mantan Kyai NU yang Mendakwahkan Sunnah di Kalangan Nahdhiyin 

    “Tahlilan merupakan budaya agama Hindu, hal ini dibuktikan dengan ungkapan syukur dari pendeta dalam sebuah acara berikut ini,“Tahun 2006 silam bertempat di Lumajang, Jatim diselenggarakan kongres Asia penganut agama Hindu. Salah satu poin penting yang diangkat adalah ungkapan syukur yang cukup mendalam kepada Tuhan mereka karena bermanfaatnya ajaran agama mereka yakni peringatan kematian pada hari 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 40, 100, 1000 dan hari matinya tiap tahun yang disebut geblak dalam istilah Jawa(atau haul dalam istilah NU-ed) untuk kemaslahatan manusia yang terbukti dengan diamalkannya ajaran tersebut oleh sebagian umat Islam” (KH. Makhrus Ali dalam buku “Mantan Kyai NU menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah para Wali” hal.23)

    “Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabi’uts tsani 1345H/21Oktober 1926M mencantumkan pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan setelah kematian (yakni Tahlilan dan Yasinan-ed) adalah Bid’ah yang hina/tercela, namun tidak sampai mengharamkannya. (Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, keputusan Muktamar, Munas Kombes Nahdhatul Ulama (1926-2004M) LTN NU Jawa Timur Bekerja sama dengan Penerbit Khalista, Surabaya-2004. Cetakan ketiga, Februari 2007 Halaman 15 s/d 17).” (KH. Makhrus Ali dalam buku “Mantan Kyai NU menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah para Wali” hal.19) (More …)

     
  • mas Aqil 10:13 am on April 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: ahli bid'ah, ahlussunnah, Buku Putih, Kyai, Kyai Afrokhi Abdul Ghoni,   

    Kyai Afrokhi Abdul Ghoni: Dari Ahlul Bid’ah menuju Ahlussunnah (Kisah taubat seorang Kyai NU dari ajaran NU) 

    “Terus te rang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid’ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga tempat-tempat yang dianggap keramat sekaligus menjadi imam tahlilan, ngalap berkah kubur, marhabanan atau baca barzanji, diba’an, maulidan, haul dan selamatan yang sudah berbau kesyirikan”

    “Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)

    “Kita biasa m elakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim pahala bacaan kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut atas dasar kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya sendiri di kala masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah ngalap berkah dan kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu ilmu sama sekali, yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya melihat banyak orang yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang mengamalkannya. Hingga saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu adalah suatu kebenaran.” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210) (More …)

     
  • mas Aqil 12:40 am on April 14, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , Kyai, , , , ,   

    Salah Kaprah dalam Memperuntukkan Tahlilan (Penyimpangan Di atas Penyimpangan) 

    Bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Sebuah kesalahan dan kemungkaran itu tidak diam di tempat. Manakala kesalahan dan kemungkaran tidak segera diperbaiki, maka akan bertambah parahlah kesalahan dan kemungkaran itu. Termasuk dalam hal ini adalah perkara bid’ah yang akan kita bicarakan pada kesempatan kali ini, yakni Yasinan dan Tahlilan (terkhusus tahlilan, karena jika kedua amalan ini terkumpul menjadi satu, maka tahlilanlah yang sering disebut dibandingkan dengan Yasinan). Ya, tahlilan adalah sebuah amaliah bid’ah yang dibuat-buat oleh manusia, bukan amalan Rasulullah dan para sahabat beliau beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Walau sebagian orang menganggapnya sebagai bid’ah hasanah, sesungguhnya anggapan ini tertolak dalam syari’at. Tidak ada yang namanya bid’ah hasanah. Dan bid’ah merupakan kemungkaran yang dianggap oleh banyak manusia sebagai ketaatan. (More …)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel