Pacaran yuukkk.. Tapi yang Islami Ajjaaahh. ..^^.. (Pacaran Islami? Adakah?)

“Hari gini gak punya pacar? Apa kata bu Nia?!”

Begitulah kira-kira jargon yang berkembang di tengah-tengah masyarakat kita sekarang. Sudah menjadi hal yang lumrah kalo para muda-mudinya kita ketahui saling berpasang-pasangan dengan pacarnya masing-masing. Dan hal itu menjadi pemandangan yang lazim pada zaman sekarang. Bahkan yang gak lazim adalah kalo ada pemuda atau pemudi yang nggak pacaran. Bahkan yang nggak pacaran pun menjadi sasaran olok-olokan dan terus dikompori biar orang yang gak pacaran itu menjadi pacaran. Bahkan sampe ada yang rela berkorban untuk mencarikan pacar buat sohibnya yang belum punya pacar. Solid..^^..

”Udah punya pacar?”
”Eh, pacarmu mana?”
”Hare gene gak punya pacar?”
”Loe laki-laki atau bencong sih? Masak gak punya pacar?”
”Ah.. sok alim loe.. sok suci banget”
”Munak loe”
Dan seabrek perkataan lainnya ditujukan kepada orang-orang yang nggak punya pacar.

Dan kayaknya, jargon di atas juga secara sadar atau nggak disadari merasuk kepada para muda-mudi yang menisbatkan diri mereka kepada aktivitas dakwah. Para aktivis dakwah itupun nggak mau ketinggalan zaman.

Para aktivis kan juga manusia. Punya rasa, juga punya hati. Jadi, mereka pun juga bisa merasakan sesuatu yang lazim dinamakan cinta kepada sosok perempuan, atau kalo dalam bahasa dakwahnya dinamakan akhwat. Itu kalo dari sisi para aktivis yang laki-laki (ikhwan). Adapun dari sisi aktivis dakwah perempuan pun sama. Sama-sama punya rasa, sama-sama punya hati dan sama-sama bisa merasakan sesuatu yang dinamakan dengan cinta.

Kalo seandainya di kalangan para non-aktivis, rasa cinta itu bisa diteruskan dengan menikah. Namun sebagian besar dari mereka mengaplikasikan rasa cinta itu dengan dengan aktivitas pacaran. Lalu bagaimana dengan para aktivis? Bagaimana mereka meneruskan rasa cinta itu?

Ternyata, ada beberapa tindak lanjut dari rasa cinta terhadap lawan jenis ini yang bisa diidentifikasi dari para aktivis ini:
1. Sebagian mereka memilih jalan yang instan dan selamat yakni dengan menikah
2. Sebagiannya lagi karena belum sanggup untuk menikah, maka mereka mencintai lawan jenis itu dalam diam.
3. Sebagiannya lagi mengekspresikannya dalam bentuk lain dari pacaran. Mereka mengatakan aktivitas yang dilakoninya adalah ta’aruf. Dan sebagiannya lagi mengatakannya dengan nama Pacaran Islami.

Kalo saya pribadi definisikan, secara umum, pacaran ialah hubungan yang terjalin antara dua orang yang saling mencintai antara laki-laki dan perempuan tanpa ada ikatan pernikahan. Lalu, apa yang membedakan antara pacaran yang konvensional dengan pacaran Islami?

Menurut para pelaku pacaran Islami, hal-hal yang membedakan antara pacaran konvensional dengan pacaran islami adalah aktivitas yang dilakukan oleh para pelakunya. Para pelaku pacaran konvensional, makruf bagi kita apa yang mereka kerjakan. Adapun para pelaku pacaran Islami, mereka mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu ”tidak melanggar” syari’at, bahkan merasa bisa lebih ”mendekatkan diri” kepada Allah.

Gimana ya model pacaran Islami? Kalo kita perkirakan, kira-kira beginilah dia model pacaran Islami:
1. Kalo ketemuan, ngucap salam dulu. ”Assalamu’alaikum…”
2. Tempat ketemuannya di masjid.
3. Waktu ketemuannya gak pake malming segala. Pokoknya pada event2 Islami kayak Syuro’, training, kajian de el el.
4. Kalopun ada yang dibicarakan, maka topik pembicaraannya hanya seputar agenda dakwah.
5. Kalo manggil dengan panggilan habibi dan habibah, akhi dan ukhti atau panggilan-panggilan ”Islami” yang semisal.
6. Kalo malam-malam suka misscall atau ngirim-ngirim sms yang kalimatnya, ”Wahai mujahidku, bangunlah…” atau ”Wahai mujahidahku, bangunlah…” atau yang semisal dengan itu.
7. Kalo ketemuan saling menundukkan pandangan (ghadhul bashar).
8. Gak pake acara sentuh-sentuhan tangan, apalagi cipika-cipiki.
9. Kalo duduk bareng, jaraknya minimal dua meter.
10. Pas nembak, sang ikhwan bilang, ”Ukhti, Uhibbuki fillaah…” dibalas pula sama yang akhwat dengan jawaban, ”Ahabbakalladzii ahbabtanii lahu (Semoga Allah mencintaimu karena engkau telah mencintaiku karena-Nya)” (HR. Abu Dawud IV/333 dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud III/965). Glodak…
Eits, jangan salah lho, mereka pun pake dalil juga. Mau tau dalilnya?

Nabi bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah dia memberitahu bahwa dia mencintainya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Mungkin juga mereka menggunakan dalil hadits,
Rasulullah bersabda, ”Tidak akan masuk syurga engkau semua itu sehingga engkau semua beriman dan tidak akan dinamakan beriman engkau semua itu sehingga engkau semua saling cinta-mencintai.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Kenapa mereka lebih memilih cara ”aman” untuk menjalin hubungan pra-nikah yang mereka namakan dengan pacaran Islami. Mereka memberikan argumentasi bahwa pacaran Islami adalah sebuah proses awal untuk saling mengenal seseorang dalam rangka menuju pernikahan. Gimana tidak? Zaman sekarang kalo mau cari jodoh itu kudu selektif. Kita nggak mau dong ibaratnya membeli kucing dalam karung? Toh gaya pacaran kitapun beda karena lebih Islami. Tuh buktinya sebagaimana yang diuraikan di atas. Begitu kata mereka.

Mereka melanjutkan, bahwa kita itu butuh seseorang yang kita sayangi yang dengannya kita selalu diingatkan kepada kebaikan. Kita butuh seseorang yang spesial yang senantiasa mengingatkan kita untuk selalu menapaki kebaikan: ada seseorang yang selalu setia membangunkan kita untuk shalat tepat waktu, untuk qiyamul layl, yang ngajakin kita buat ta’lim, dan lain-lainnya. Demikian juga orang yang selalu memotivasi kita di atas jalan dakwah, karena obrolan kita nggak lebih seputar permasalahan dakwah.

Bahkan tau nggak, bahwa pelaku pacaran Islami ini dengan adanya pacaran Islami ini mereka merasa lebih nyaman, tentram, gemah ripah loh jinawi? Yuaa demikianlah yang mereka akui. Bahkan merasa lebih dekat kepada Allah.

Mereka juga beralasan bahwa mereka nggak bisa menikah dengan seseorang yang nggak mereka kenal secara detail. Mau nanya sama orang-orang tentang profilnya atau pernak-perniknya tentang orang yang kita cintai, kita nggak yakin. Toh penilaian masing-masing orang itu kan relatif. Jadi, lebih sreg dan lebih yakin kalo kita yang menilai sendiri secara langsung. Kita kan menikah Cuma sekali dalam seumur hidup Begitu alasan mereka.

Sekilas memang meyakinkan dan ”sesuai” syari’at memang. Tapi, betulkah demikian? Apa betul hal itu bisa mendekatkan diri kepada Allah? Apa betul begitu yang diajarkan oleh syari’at Islam? Apa betul dengan itu semua kita yakin bisa menjaga diri kita dari zina: zina mata, zina hati? Katakanlah mereka bisa selamat dari zina tangan, karena pada prinsipnya pacaran model yang Islami menurut mereka adalah tanpa berpegangan atau bergandengan tangan, karena Rasulullah bersabda, ”Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Hadits hasan riwayat Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam Musnad: 1283 lihat Ash Shahihah 1/447/226), lalu bagaimana dengan mata dan hati? Kita yakin bahwa yang namanya orang pacaran, masa’ sih menundukkan pandangan terus? Gak asyik dong?..^^..

Padahal Rasulullah bersabda, ”Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina yang tidak akan bisa dielakkannya. Zina pada mata adalah memandang. Zina pada telinga adalah mendengar. Zina lidah adalah berucap kata. Zina tangan adalah meraba. Zina kaki adalah melangkah. (Dalam hal ini), hati yang mempunyai keinginan angan-angan, dan kemaluanlah yang membuktikan semua itu atau mengurungkannya” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i dari Abu Hurairah).
Nah, gimana dengan hadits di atas?

Dari penamaannya saja, tahulah kita kalo pacaran itu bukan dari Islam. Tuh buktinya ada embel-embel Islami di belakangnya. Kalo emang dari Islam, ngapain harus ditambah kata Islami di belakangnya. Suatu perkara yang udah termasuk bagian dari Islam, maka nggak pernah ada lagi embel-embel kata Islami di belakangnya. Yuaa karena emang berasal dari Islam, ngapain harus dikasih embel-embel Islami?

Kita hendaknya berhati-hati dalam menyematkan kata Islami dalam sebuah perkara. Karena boleh jadi dengan tindakan kita itu, kita malah menghalalkan sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah. Termasuk dalam hal ini adalah menyematkan kata Islami di belakang kata pacaran. Demikian juga, jika kita melakukan hal ini, maka sesungguhnya kita telah melakukan pengelabuan kepada masyarakat. Sesuatu yang awalnya terlarang, seolah-olah menjadi sesuatu yang sah dan legal ketika kita sematkan kata Islami di belakang sesuatu tersebut.

Sesuatu yang tidak asing bagi kita bahwa pacaran adalah sebuah sarana yang bisa mendekatkan kita kepada zina, makanya Islam mengharamkannya. Tapi ketika ditambahkan dengan kata Islami di akhir kata pacaran, maka seolah-olah pacaran itu halal.

Berhati-hatilah, karena perilaku semacam ini telah dikabarkan oleh Rasulullah. Dari Abu Malik Al-Asy’ari, bahwa Nabi bersabda, ”Akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutra (bagi laki-laki –red-), minuman keras serta alat-alat musik” (HR. Bukhari dalam shahihnya secara mu’allaq).
Allahua’lam bish showab..
(Al-Faqir ilaa Robbih: Aqil Azizi)

Advertisements