Nona Hijab dan Eman si sapi (Sebuah Pergolakan Pemikiran)

Inilah sebuah kisah tentang perjalanan para nona bersama pergolakan pemikiran. Adalah nona Hijab dengan seorang Nona lainnya bertemu dengan Eman si sapi. Lantaran nona Hijab gak suka sama Eman si sapi, maka nona Hijab pun menyingkir. Sedangkan nona yang lainnya itu begitu demennya sama Eman si sapi, maka si nona itu ngikut dah.

Nona Hijab akhirnya berpisah dengan nona yang lainnya itu. Lantaran sang nona jatuh cinta dengan Eman si sapi, sedangkan Nona Hijab tetap mengikuti fitrahnya sebagai wanita muslimah yang menjaga kehormatannya dengan mengenakan hijabnya yang syar’i nan anggun..

Apa kabarnya si nona yang mencintai Eman si sapi ya? Ternyata si nona telah banyak berubah. Rupanya Eman si sapi telah mengubah mind set si nona ini menjadi nona yang sangat liberal nan sekuler. Ini akibat dari perkenalan si nona dengan Eman si sapi. Dan usut punya usut, ternyata telah banyak korban dari para nona yang menjadi liberal nan sekuler akibat perkenalan mereka dengan Eman si sapi.

Sedikit banyak Eman si sapi terus saja berusaha untuk memutarbalikkan pola pikir si nona yang kini menjadi amat liberal nan sekuler. Pelan tapi pasti, si nona telah banyak tercuci otaknya. Kini ia berubah kayak berubahnya siang jadi malam. Begitu gelap. Pola pikirnya telah berubah sebagaimana pola pikir yang ia dapat dari Eman si sapi. Dia telah berani menerjang batasan yang telah baku dalam agamanya. Bahkan menjadi salah seorang penentang bagi agamanya. Luar biasa memang Eman si sapi ini.

Siapa sih Eman si sapi ini? Kenapa banyak nona yang kepincut dengannya? Penjahat para nonakah? Bisa dibilang begitu. Penampilannya yang nyentrik abis bernuansa modern dengan retorika yang memukau membuat para nona bagai tersihir. Ditambah lagi ia adalah lulusan dari barat. Universitasnya begitu ternama disana. “Muke Gille University” namanya. Apalagi ia dinyatakan lulus dengan predikat “cumlaude” atau “mumtaz” atau istimewa. Ia pun dinyatakan lolos dari uji emisi. Jadi wajarlah banyak nona yang kepincut dengannya.

Sejak dulu ia dididik sebagai pemikat para nona. Namun kemampuannya semakin bertambah ketika ia dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude di barat sana. Kebebasan yang diusungnya berserta modernisasinya membuat para nona senantiasa ingin berdekatan dengannya. Sekali para nona itu mengenalnya, saat itu pula para nona dibuat seolah terbuai dengan modernitas dan kebebasan yang ia rayukan kepada para nona itu. Yah, biasalah para nona yang dulunya hidup dalam kungkungan aturan yang mengikat dan kolot, kata para nona itu. Ketika dirayu oleh Eman si sapi dengan kebebasan dan modernitas, maka terpukaulah mereka. Itulah sedikit biografi dari Eman si sapi ini.

Apa kabarnya ya si nona Hijab? Udah lama tak bersua dengannya. Rupanya nona Hijab masih tetap seperti dulu. Ia tetap memegang prinsipnya dengan kuat. Sebagai seorang muslimah dia gak akan membebek kepada Orientalis, Feminis, Liberalis, ataupun Sekularis bahkan Salibis, begitulah prinsipnya. Dia berprinsip bahwa Islam tidak menghalanginya untuk menjadi manusia bebas dan modern. Berbeda dengan kebanyakan para nona yang terpana dengan pola pikir Eman si sapi.

Dasar penjahat nona, rupanya Eman si sapi pun berpaling hati ke lain nona. Setelah dia menaklukkan si nona dan menjadikannya sebagai seorang yang amat liberal nan sekuler, rupanya dia pun telah menjadikan nona Hijab sebagai sasaran kejahatan dirinya. Apa yg dilakukan oleh nona Hijab ketika bertemu dengannya? Nona Hijab menundukkan pandangannya terhadap dirinya. Agak sulit kayaknya nona satu ini ditaklukkan, begitu pikirnya.

Sejatinya, nona Hijab adalah nona yang cerdas.Walau dia tidak mengenyam pendidikan yang tinggi, tapi ia begitu lincah mengikuti ritme kehidupan modern tanpa harus mngorbankn prinsip yang selama ini ia pegang sebagai seorangg muslimah. Tempaan agama dalam dirinya menjadikannya sebagai sosok yang kuat sekalipun ia seorang nona. Glamour zaman tidak membuatnya silau sebagaimana para nona lainnya yang banyak berjatuhan dan bertekuk lutut terhadap modernitas. Tidak demikian dengan nona Hijab.

Rupanya, nona yang liberal nan sekuler pun gak tinggal diam. Dia juga mengikuti jejak Eman si sapi dalam mneyebarkan pemikirannya yang rusak itu kepada para nona lainnya. Dari sepak terjangnya ini, si nona udah berhasil meng-Eman si sapikan beberapa nona.

Nona yang liberal nan sekuler sekarang ini udh bertemankan dengan para nona yg sama-sama berjuang bersama buat Eman si sapi. Oia, hebat lho sekarang mereka. Udah punya wadah fans club buatt Eman si sapi. Anggotanya tiap hari bertambah banyak lho.

Eh gak nyangka, ternyata dari Muke Gille University ada juga lulusan seorang nona. “Femi manis” namanya. Tapi orang-orang pada suka manggil dia dengan nama “Feminis”. Dia pun gak jauh beda sama Eman si sapi, yakni sama-sama nyeleneh. Namanya yang cantik, menutupi hakikat dirinya.

Nona Feminis adalah lulusan dari Muke Gille University, sama kayak Eman si sapi. Nona Feminis adalah adik tingkat dari Eman si sapi. Sebagaimana Eman si sapi, nona Feminis juga lulus dengan predikat cumlaude atau mumtaz atau istimewa. Wajarlah ia mendapat predikat yang sangat memuaskan karena ia memiliki sebuah teori atau paham yang dinamakan dengan teori/paham “Feminisme” sesuai dengan namanya. Teori/pahamnya ini telah dinyatakan lolos dengan high qualified dan telah dinyatakn lulus uji emisi dengan hak paten atas nama dirinya dengan mengikuti standarisasi ISO 9001. Inilah sekilas biografi dari nona Femi manis, atau yang lebih dikenal dengan nama “Feminis” beserta teori/pahamnya yang diberi nama teori/paham Feminisme.

Suatu ketika, bertemulah Eman si sapi dengan nona Feminis. Maka jatuh cintalah Eman si sapi kepada nona Feminis. “First love at the first sight” begitu kata orang. Demikian juga dengan nona Feminis.

Tak lama dari perkenalan antara Eman si sapi dengan nona Feminis, mereka berdua kemudian bersepakat untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Akhirnya mereka berdua merried.

Maka, pesta pernikahan itu dimeriahkan dengan kedatangan para tamu istimewa dr Muke Gille University. Demikian juga hadir nona yang liberal nan sekuler beserta para simpatisan lainnya.

Berkumpul dan berpadulah dua buah pemikiran yang merusak itu. Eman si sapi dengan teori dan pahamnya demikian juga nona Feminis dengan teori dan pahamnya. Eman si sapi dengan nona Feminis emang pasangan yang ideal dan serasi. Sekufu’ begitu kata orang-orang kita.

Antara Eman si sapi dengan nona Feminis terjalin ikatan yang kuat. Mereka berjanji untuk menjadi pasangan sehidup semati. Makanya, setiap nama Eman si sapi disebut dapat dipastiin bahwa nama nona Feminis pun menyertainya. Hmm.. Pasangan yang serasi memang.

Dasar Eman si sapi. Karena kepiawaiannya dalam retorika dan berdiplomasi, ia berhasil membujuk para donatur untuk mendonasikan harta mereka guna mendirikan LSM (Lembaga Swadaya eMan) di beberapa wilayah. Belum lagi dari para simpatisannya yang kaya.

Kemampuan berdiplomasi ditambah lagi dengan dalih kesamaan (equality) untuk menyejajarkan kaum nona dengan kaum tuan, mengangkat harkat kaum nona dalam ranah hidupnya, membebaskan kaum nona dari ikatan-ikatan yang membelenggu serta dengan dalih-dalih lainnya yang begitu menarik hati para nona menjadikan siapa pun yang mendengarkannya kayak tersihir dibuatnya. Makanya donasi mengucur deras dari dalam dan luar negeri yang terpikat dengan program-program yang ditawarkan oleh Eman si sapi kepada para nona.

Sekilas apa yang dicanangkan oleh Eman si sapi dalam program-programnya amat memikat, namun bagi nona hijab tidak demikian. Nona hijab merasa bahwa ada ketidakberesan dari program-program itu. Itulah mengapa nona hijab gak mau menerima serta menundukkan pandangannya dari itu semua. Cukuplah apa yang ia yakini selama ini dari identitas muslimahnya untuk dapat diaplikasikan dalam hidupnya. Namun sayang, kebanyakan nona begitu terpesona dengan apa yang mereka lihat dari cara pandang Eman si sapi secara sekilas saja lantaran para nona itu tidak menundukkan pandangan mereka dari semua itu.

Nona hijab tahu bahwa ia dan para nona lainnya diciptakan dalam fitrahnya dengan berbagai perbedaannya dengan kaum tuan. Memang ada kesamaan-kesamaan antara kaum tuan dengan kaum nona, namun dalam banyak sisi ada hal-hal yang menghijab dari perbedaan-perbedaan. Nah, Eman si sapi ingin mengoyak hijab perbedaan-perbedaan itu. Demikian juga akan terkoyaknya hijab yang melingkupi dirinya. Jika hijab dirinya udah terkoyak, maka dirinya akan kehilangan identitasnya sebagai nona hijab.

Perasaan nona hijab benar adanya. Dia melihat bahwa para nona yang terbius dengan pemikiran Eman si sapi telah berani mengoyak hijab mereka. Mereka gak peduli lagi ama hijab dan merusak fitrahnya sebagai kaum nona. Terkikisnya budaya malu serta nilai dan moralitas sebagai kaum nona. Semua itu telah dilihat oleh nona hijab dari para nona yang teracuni pikiran mereka dengan pemikiran Eman si sapi.

Suatu hari, Eman si sapi bersama nona Feminis bercengkerama bercerita tentang pengalaman mereka dalam menyebarkan pemikiran mereka. Lalu Eman si sapi pun menceritakan tentang nona Hijab yang begitu sulit dirasuki oleh pemikirannya. Hijab si nona seakan menghijab nona hijab dari pemikiran Eman si sapi.

Rupanya nona Feminis pun merasakan pengalaman yang sama, yakni merasa sulit untuk merasuki pikiran nona hijab yang pernah ia jumpai. Rata2 nona hijab yang ia temui adalah nona hijab yang berhijab dengan sempurna. Nona hijab itu selain menghijab dirinya dengan hijabnya yang sempurna, nona hijab itu juga menghijab pikirannya dari pemikiran dan ideologi semisal pemikiran dan ideologi yang digulirkan oleh Eman si sapi dan nona Feminis beserta para simpatisan mereka sehingga tidak ada celah untuk dapat merasuk ke dalam pikiran nona hijab.

Geram.. geram.. geram.. Eman si sapi dan nona Feminis jadi geram. Apa pasal? Rupanya nona Hijab pun tak tinggal diam. Dengan upaya semampunya, nona hijab telah berhasil mengeluarkan beberapa nona dari pemikiran Eman cs. Dengan izin Allah tentunya.

Tak disangka oleh Eman si sapi dan nona Feminis, ternyata nona Hijab juga punya kekuatan yang tersembunyi, atau dalam bahasa kerennya dinamakan “Inner Power” sehingga ia mampu membelotkan beberapa nona. Maka, dikerahkanlah kekuatan yang lebih gede lagi untuk mengatasi nona Hijab. Berbagai media pun dia lirik, mulai dari media cetak dan elektronik, TV dan temen2nya untuk mendiskreditkan nona Hijab.

Gak cuman itu lho, Eman si sapi dan para simpatisannya pake pula cara-cara yang gak sportif lagi, yakni memberikan julukan-julukan yang buruk buat nona Hijab. Mulai dari julukan nona ekstrim lah. Gak modern lah. Terbelakang lah. Fanatik lah. Fundamentalis lah. Sampe tuduhan teroris beserta julukan-julukan yang gak baek laennya. Tujuannya agar para nona menjauhi nona Hijab. Tapi nona Hijab tetap gak bergeming. Yah, walo kadang-kadang ada perasaan yang gak nyaman dengan julukan-julukan yang datang bertubi-tubi itu. Akan tetapi nona Hijab gak peduli dengan itu semua. Nona Hijab tetep easy going aja dengan itu semua. Go nona Hijab go.

Kini, nona Hijab tengah menghadapi serangan-serangan pemikiran yang diluncurkan oleh Eman si sapi dan nona Feminis beserta para simpatisan mereka. Sebenarnya, masih banyak juga yang mendukung perjuangan nona Hijab ini. Dan dukungan itu datang dari para nona hijab lainnya. Namun, di sisi lain banyak juga yang mendiskreditkan nona Hijab lantaran terhasut oleh tuduhan-tuduhan yang dilancarkan oleh Eman si sapi dan nona Feminis beserta para nona dari para simpatisan mereka yang terbujuk rayu oleh teori dan paham Eman si sapi dan nona Feminis.

Itulah kisah nona Hijab yang merupakan sebuah bentuk simbolisasi dari keadaan nyata yang ada dalam hidup ini. Nona Hijab dan para nona lainnya yang ada dalam kisah ini adalah riil adanya.

Siapakah nona Hijab? Boleh jadi nona Hijab adalah anda.

Siapakah nona liberal nan sekuler? Boleh jadi ia juga adalah anda.

Siapakah para nona yang terbujuk rayu oleh teori dan pemikiran Eman si sapi dan nona Feminis? Boleh jadi mereka adalah anda dan saudari-saudari anda dari kalangan nona yang juga terbujuk rayu oleh teori dan pemikiran ini.

Nah, tinggal anda sendiri yang menentukan pilihan anda untuk mengambil peran yang mana: Menjadi nona Hijabkah anda? Atau menjadi nona liberal nan sekulerkah anda? Atau “sekedar” menjadi salah satu nona yang tergabung dalam simpatisan yang mendukung teori dan pemikiran Eman si sapi dan nona Feminis? Semua itu ada pada diri anda. Silahkan anda memilihnya. Allahua’lam bish shawab… FIN

written by Aqil Azizi

Advertisements