Tasyabbuh Pada Penggunaan Biji-Bijian Tasbih

Lihatlah persamaan kedua gambar di atas! Maka anda akan menjumpai bahwa penggunaan tasbih untuk berdzikir umat Islam merupakan bentuk tasyabbuh (penyerupaan) kepada kaum musyrik Budha.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ  أخرجه أحمد وغيره، وصججه الألباني في الإرواء رقم ١٢٦٩

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” [Dikeluarkan oleh Ahmad dan yang lainnya, serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwaa’ no. 1269]

Inilah bencana tasyabbuh dalam tubuh umat Islam. Hampir di setiap lini kehidupan kaum muslimin, ada saja orang-orang yang melakukan tindak tasyabbuh. Termasuk dalam hal ini adalah berdzikir dengan menggunakan biji-bijian tasbih.

Bagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Menghitung Bilangan Dzikir?

Bagaimana tuntunan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menghitung bacaan dzikir kita? Yang disunnahkan dalam menghitung bilangan dzikir adalah dengan menggunakan jari–jari tangan kanan.

Abdullah bin Amr radhiyallaahu ‘anhu berkata,

قال عبدالله:رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلّم يقعدالتسبيح بيمينه

“Aku melihat Rasulullah menghitung bacaan tasbih (dengan jari – jari) tangan kanannya” (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud no. 1502 dan Tirmidzi no. 3486)

Bahkan Nabi Shallallaahu ’alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat wanita menghitung : Subhaanallah, alhamdulillah dan mensucikan Allah dengan jari–jari, karena jari–jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara (pada Hari Kiamat) (Hadits Hasan Riwayat Abu Dawud no 1501 dan At Tirmidzi, dihasankan oleh Imam An Nawawi dan Ibnu Hajar Al ‘Asqalani)

Inilah akibat dari tindakan kaum muslimin yang tidak mau mengembalikan segala permasalahan tatacara ibadah mereka kepada tuntunan ibadah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Hasilnya adalah penyimpangan demi penyimpangan muncul. Lihat saja praktek penggunaan biji tasbih sebagai alat untuk menghitung bacaan dzikir. Persis dengan apa yang dilakukan oleh kaum musyrik penyembah berhala Budha. Padahal, apa yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak demikian.

Menghitung Bilangan Dzikir Hanya Menggunakan Tangan Kanan

Dari dua riwayat hadits terdahulu, tahulah kita bahwa menghitung bilangan dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam hanya menggunakan jari-jari tangan kanan. Namun, di sebagian kalangan kaum muslimin lainnya (yang tidak menggunakan biji-bijian tasbih), mereka menggunakan jari-jari kedua tangan mereka (kiri dan kanan). Ini juga merupakan praktik amaliah yang tidak tepat.

Perkataan Abdullah bin Amr radhiyallaahu ‘anhu,

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلّم يقعدالتسبيح بيمينه

“Aku melihat Rasulullah menghitung bacaan tasbih (dengan jari – jari) tangan kanannya” merupakan perkataan yang jelas dan tegas yang menerangkan kepada kita bahwa menurut tuntunan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, menghitung bacaan tasbih itu dengan tangan kanan saja, bukan dengan tangan kiri atau bukan juga dengan menggunakan biji-bijian tasbih.

Bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga memberitahukan kepada kita tentang keutamaan berdzikir dengan menggunakan jari-jari tangan kanan kita, yakni bahwasanya jari-jari tangan kanan kita tersebut akan ditanya dan berbicara serta menjadi saksi kebaikan bagi kita sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat di atas. Tentu ini merupakan sebuah keutamaan yang sangat besar.

Dan tidak ada sebaik-sebaik petunjuk yang menerangkan kepada kita tentang tatacara beribadah melainkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, termasuk dalam perkara menghitung bilangan dzikir ini. Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberikan contoh kepada kita menghitung bilangan dzikir dengan jari-jari tangan kanan saja, maka hendaknya kita tidak mencari-cari cara lain selain apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Cukuplah bagi kita mengamalkan amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda,

وخيرالهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم

“Dan sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallaahu ‘alahi wasallam” (HR. Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 2118), An-Nasa`i (III/104-105) dan lainnya dari riwayat Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini shahih dan memiliki beberapa syawahid dari beberapa orang sahabat lainnya)

Khatimah

Maka, merupakan sebuah kewajiban bagi kita untuk mengembalikan tatacara ibadah kita kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam agar kita mendapatkan keselamatan. Selamat dari apa? Selamat dari penyimpangan dan kesesatan yang akan menjerumuskan kita ke dalam api neraka.

Tidak ada akibat yang lebih buruk lagi manakala seseorang tidak mengembalikan tatacara ibadahnya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melainkan ia akan ditimpa fitnah yang berupa kesesatan. Berpalingnya kaum muslimin dari jalan yang digariskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menyebabkan kaum muslimin dipalingkan oleh Allah dari kebenaran. Allah palingkan mereka ke arah mana mereka tersesat.

Allah berfirman,

“Dan barangsiapa yang menentang/memusuhi Rasul sesudah nyata baginya al-hidayah (kebenaran) dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min, niscaya akan Kami palingkan (sesatkan) dia ke mana dia berpaling (tersesat) dan akan Kami masukkan dia ke dalam jahannam dan (jahannam) itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali” (QS. An-Nisa’ : 115)

Allaahu ta’ala a’lam bish-showab

Ditulis oleh Aqil Azizi.

About these ads